MAHASISWA, ANTARA HARAPAN & IRONI

Dunia pendidikan hari ini diwarnai dengan harmoni masalah demi masalah yang bermunculan. Mulai dari jenjang pendidikan dasar seperti TK, SD, SMP, SMA, bahkan merambah ke dunia perguruan tinggi.
Dunia perguruan tinggi tak luput dari masalah, termasuk permasalahan di kalangan intelektualnya (mahasiswa). Menjadi mahasiswa adalah etape awal sebelum menuju tahap berikutnya yaitu terjun di dunia masyarakat.
Mahasiswa bukan hanya menjadi sosok autorobot yang hanya sekedar belajar, lulus, lalu bekerja. Terus begitu siklusnya hingga anak cucu.
Menjadi mahasiswa harusnya tidak sesingkat itu. Banyak amanah yang dibebankan di pundak mahasiswa sebagai agen perubahan sekaligus problem solver ummat. Usia muda menjadi usia emas baginya untuk berjuang dan terjun ke ummat.
Naasnya mahasiswa hari ini, tidak lagi berperang dengan fisik, namun nonfisik (pemikiran). Semua masalah yang menimpa mahasiswa hari ini, semua tersebab pemikiran rusak yang ditanamkan sistem sekuler.
Mahasiswa dituntut mengejar nilai semu, tapi lupa pada akhlak luhur. Mereka lupa bagaimana cara menghormati ilmu dan ulama, hanya sibuk mengejar materi. Semua diukur berdasar nilai dan apa yang didapat, tak lagi mencoba memberi. Harinya dihabiskan menyeruput kopi belaka menunggu senja, tanpa terlintas di pikirannya bahwa masih banyak saudara seimannya berada dalam bahaya.
Mahasiswa hanya jadi sosok melempem yang tak mampu bersuara lantang saat Islam dinista. Sibuk dengan dirinya sendiri, bahkan di antaranya tidak sadar bahwa sebenarnya ada masalah di sekitarnya.
Mahasiswa tak lagi cemerlang, hanya jadi cetakan produk lulusan siap kerja sesuai pesanan industri.
Dan ironisnya, ini mahasiswa Islam!
Lalu bagaimana? Mari kita berkaca pada sejarah dan tiru bagaimana Islam mencetak pemudanya menjadi pemuda yang tak hanya berbuat hal receh nan tidak berfaidah, mereka bervisi besar sejak dalam buaian.
Mereka dibentuk dan dididik dengan pemikiran Islam, diampu semaksimal mungkin di bawah naungan ulama, dicetak menjadi pemuda dengan mimpi dan cita-cita besar.
Maka bukan tidak mungkin mereka menjadi pionir kebangkitan Islam lewat kemampuan dan keahliannya. Tak sedikit dari mereka yang ahli fiqh, hadits, faraidh, bahkan menjadi panglima perang dan penakluk Kota Konstantinopel di usia muda.
Maka apa kabar mahasiswa?
Sudah sampai mana mimpimu?
Sampai mana arah perjuanganmu?
Mau dibawa kemana nasib bangsa?
_Fitriah Junita, mahasiswi PBA_

Related Posts

Prodi PBA UMSIDA Jalin Kerja Sama Bidang Dakwah dengan Darut Tauhid

Jumat (17/01), utusan dari pihak Prodi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas...

Bahasa untuk Negeri

(Atika Rahmawati PBA smt 1) Hari itu jam perkuliahan pagi...

HAKEKAT MAHASISWA

HAKEKAT MAHASISWA Hempasan angin samudera Menghantam ombak dilautan daka Menghimpit...

Leave a Reply