Pba.umsida.ac.id- Transformasi digital di pendidikan tinggi mendorong lahirnya model hybrid learning, yaitu kombinasi tatap muka dan pembelajaran daring.
Baca Juga:Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab dengan Sistem Pembelajaran Adaptif Berbasis Analitik
Dalam konteks Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Umsida, temuan riset terbaru menegaskan satu poin kunci: hybrid learning relevan sebagai pendukung, tetapi tidak tepat dijadikan pendekatan utama untuk mata kuliah Ilmu Ma’ani yang bersifat konseptual dan menuntut pendalaman teks Arab klasik.
Kesimpulan tersebut diangkat dari artikel ilmiah berjudul Relevansi Hybrid Learning Method pada Mata Kuliah Ilmu Ma’ani Bagi Mahasiswa Mobility di Unisza karya Dina Wilda Sholikha dan Eko Asmanto (Umsida) yang dipublikasikan online pada 28 Oktober 2025. Penelitian ini menyoroti pelaksanaan hybrid learning pada mata kuliah Ilmu Ma’ani dalam program pertukaran pelajar antara Umsida dan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia.
Secara metodologis, penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam kepada mahasiswa peserta pertukaran dan dosen pengampu, lalu dianalisis memakai analisis tematik untuk memetakan pola pengalaman, tantangan, dan persepsi informan.
Tatap muka dinilai lebih efektif untuk pendalaman konsep
Ilmu Ma’ani diposisikan sebagai cabang ilmu balaghah yang menuntut pemahaman makna dan konteks penggunaan teks Arab klasik. Karakter mata kuliah ini membuat proses klarifikasi konsep, diskusi interpretatif, dan penilaian pemahaman mahasiswa menjadi krusial.
Hasil wawancara menunjukkan dosen dan mahasiswa sama-sama menilai pembelajaran tatap muka masih lebih efektif karena menghadirkan interaksi langsung, suasana kelas yang lebih kondusif, serta ruang tanya jawab yang lebih leluasa. Secara praktis, kehadiran dosen di kelas membantu mahasiswa menangkap esensi materi, sementara dosen bisa memantau pemahaman mahasiswa secara langsung dan responsif.
Temuan ini selaras dengan simpulan artikel yang menegaskan bahwa hybrid learning tidak mampu sepenuhnya menggantikan efektivitas tatap muka, terutama untuk mata kuliah berbasis konsep seperti Ilmu Ma’ani.
Daring memperluas akses namun partisipasi cenderung menurun
Meski tatap muka unggul untuk pendalaman, penelitian juga mencatat nilai tambah hybrid learning. Pembelajaran daring memberi fleksibilitas waktu dan tempat, memperluas akses sumber belajar digital, serta membuka peluang kolaborasi lintas institusi dalam program pertukaran.
Namun, bagian “Partisipasi dan Interaksi Mahasiswa” mengungkap persoalan yang konsisten: partisipasi mahasiswa cenderung menurun saat sesi daring. Dosen menilai komunikasi dua arah kurang optimal, dinamika diskusi terhambat, dan fokus mahasiswa tidak sekuat ketika berada di kelas fisik. Mahasiswa pun mengakui lingkungan daring lebih rentan distraksi sehingga mereka kurang aktif bertanya, menjawab, atau memberi umpan balik.
Kendala teknis turut memperparah situasi. Gangguan suara, keterlambatan (delay), serta koneksi internet yang tidak stabil berulang kali menghambat alur komunikasi, membuat mahasiswa kesulitan menangkap instruksi dan penjelasan dosen. Dalam konteks materi Ilmu Ma’ani yang abstrak, keterbatasan ekspresi nonverbal dan sulitnya bertanya spontan di ruang digital membuat pemahaman mahasiswa mudah turun.
Rekomendasi riset porsi tatap muka dominan dan infrastruktur wajib siap
Dari seluruh temuan, riset ini mendorong satu rekomendasi praktis untuk pengelolaan pembelajaran Ilmu Ma’ani di era hybrid: kombinasi tatap muka dan daring dinilai ideal, tetapi porsi tatap muka perlu lebih dominan agar pendalaman konsep dan diskusi interpretatif tetap berjalan efektif.
Dalam wawancara, salah satu narasumber mahasiswa berinisial F menilai sesi daring tetap penting sebagai alternatif ketika mahasiswa tidak bisa hadir fisik, tetapi fungsinya tetap pelengkap. Dosen yang diwawancarai juga menegaskan hybrid learning lebih tepat sebagai solusi alternatif, bukan metode utama, karena tatap muka memberi ruang pemantauan pemahaman dan pengelolaan dinamika kelas tanpa hambatan teknis.
Aspek lain yang tidak bisa diabaikan adalah kesiapan teknologi. Penelitian menekankan bahwa keberhasilan hybrid learning bukan hanya soal desain pembelajaran, tetapi juga stabilitas perangkat, platform, dan jaringan internet. Bahkan, narasumber menggambarkan solusi praktis yang ditempuh mahasiswa ketika jaringan di daerah asal tidak memadai, misalnya memanfaatkan wifi kampus atau perpustakaan UniSZA demi menjaga kontinuitas perkuliahan.
Pada akhirnya, riset ini menutup dengan kesimpulan tegas: hybrid learning berpotensi meningkatkan aksesibilitas dan kolaborasi lintas budaya, tetapi belum mampu menggantikan pembelajaran tatap muka yang lebih interaktif dan mendalam; karena itu hybrid learning sebaiknya menjadi pelengkap, bukan metode utama, dalam Ilmu Ma’ani.
Sumber: Artikel Relevansi Hybrid Learning Method pada Mata Kuliah Ilmu Ma’ani Bagi Mahasiswa Mobility di Unisza (Dina Wilda Sholikha; Eko Asmanto), publish online 28 Oktober 2025.
















