Pba.umsida.ac.id – Belajar bahasa Arab kerap dianggap sulit karena perbedaan huruf, struktur kalimat, dan pelafalan.
Baca Juga: Mahasiswa PBA Umsida Yuhsin Amali Tampil Kompetitif di UPSCC III 2025
Namun, pengalaman mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) menunjukkan hal sebaliknya. Sejak awal perkuliahan, banyak mahasiswa PBA membangun kebiasaan berbahasa Arab melalui latihan terarah di kelas, dukungan lingkungan akademik, serta konsistensi latihan di luar jam kuliah. Kebiasaan tersebut membuat bahasa Arab tidak hanya menjadi materi ujian, tetapi juga alat komunikasi dalam proses belajar.
Di lingkungan PBA, kelancaran berbahasa Arab biasanya terbentuk dari strategi sederhana yang dilakukan terus-menerus. Mulai dari membiasakan percakapan harian, memaksimalkan mata kuliah praktik, hingga memanfaatkan media digital. Berikut rangkuman tips yang umum diterapkan mahasiswa PBA agar progres belajar bahasa Arab lebih cepat dan terukur.
Membiasakan bahasa Arab dalam rutinitas mahasiswa
Salah satu langkah yang paling sering dilakukan adalah menjadikan bahasa Arab bagian dari aktivitas sehari-hari. Mahasiswa PBA membiasakan diri menggunakan ungkapan sederhana untuk menyapa, merespons, atau berbincang singkat dengan teman. Kebiasaan ini juga diterapkan dalam hal kecil seperti menulis catatan, membuat pengingat, atau membaca teks pendek berbahasa Arab.
Pola tersebut membantu mahasiswa lebih akrab dengan susunan kalimat dan kosakata tanpa tekanan berlebihan. Bahasa Arab hadir sebagai rutinitas, bukan sekadar materi akademik yang muncul ketika ujian.
Memaksimalkan perkuliahan praktik dan keberanian berbicara
Mata kuliah praktik seperti Al-Istima’ wa Al-Kalam, Al-Qira’ah, dan Al-Kitabah menjadi ruang utama latihan. Mahasiswa yang aktif, berani mencoba berbicara, dan konsisten mengikuti latihan biasanya mengalami peningkatan yang lebih cepat. Di tahap awal, kesalahan pelafalan atau tata bahasa dianggap wajar karena menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Selain itu, mahasiswa juga memperkuat kemampuan dengan mengulang materi di luar jam kuliah. Pengulangan dilakukan melalui latihan menerjemahkan, menulis paragraf sederhana, membaca ulang materi nahwu-sharaf, atau mengerjakan latihan mandiri. Kebiasaan mengulang ini memperkuat konsep dasar dan membantu mahasiswa lebih peka terhadap pola bahasa Arab.
Menguatkan kosakata dan pemahaman konteks lewat media serta kolaborasi
Mahasiswa PBA umumnya tidak menghafal kosakata secara acak. Banyak yang memilih pendekatan tematik, misalnya mufradat tentang pendidikan, aktivitas kampus, atau percakapan harian. Cara ini membuat kosakata lebih mudah diingat karena langsung dipakai dalam kalimat. Konsistensi lebih penting daripada jumlah; menambah kosakata sedikit tetapi rutin dinilai lebih efektif.
Di sisi lain, media digital juga menjadi sumber belajar yang populer. Mahasiswa memanfaatkan video, podcast, berita daring, dan konten media sosial berbahasa Arab untuk melatih pemahaman bunyi, intonasi, serta ragam penggunaan bahasa Arab modern. Latihan ini sering dipadukan dengan diskusi atau belajar kelompok agar ada ruang koreksi bersama dan praktik berbicara yang lebih santai.
Penguatan konteks juga dilakukan dengan mengaitkan bahasa dengan budaya Arab. Mahasiswa dikenalkan pada teks sastra, sejarah, dan kebiasaan sosial masyarakat Arab, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada struktur, tetapi juga memahami situasi komunikasi. Sebagian mahasiswa menambah jam terbang dengan mengikuti komunitas bahasa, lomba kebahasaan, atau kegiatan penunjang lain di luar kelas untuk melatih mental tampil dan meningkatkan kepercayaan diri.
Bahasa Arab sebagai kompetensi utama mahasiswa PBA
Bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab, bahasa Arab bukan sekadar mata kuliah wajib, tetapi kompetensi inti yang akan dibawa ke dunia profesional. Karena itu, proses belajar dipandang sebagai perjalanan akademik yang membutuhkan waktu, konsistensi, dan kesabaran.
Baca Juga: Resmi Dilantik, IMM Averroes FAI Umsida 2025/2026 Siap Meneguhkan Gerakan yang Relevan & Berdampak
Berbagai tips di atas menunjukkan bahwa belajar bahasa Arab tidak selalu identik dengan kesulitan. Dengan kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus, latihan praktik yang dimaksimalkan, serta lingkungan belajar yang mendukung, kelancaran berbahasa Arab dapat dicapai secara bertahap dan lebih bermakna.
Penulis: Nanda Putri Vegi Novaria















