Pba.umsida.ac.id – Yuhsin Amali, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) FAI Umsida, ikut berlaga dalam Unesa Pencak Silat Challenge Competition (UPSCC) III 2025 yang digelar di GOR Internasional UNESA, Surabaya, pada 18–21 Desember 2025.
Baca Juga: Mahasiswa PBA Umsida Sumbang Empat Podium di UPSCC III 2025
Ia mengikuti kejuaraan antarperguruan tinggi tersebut sebagai bagian dari proses pembinaan atlet Tapak Suci Umsida, sekaligus membuktikan bahwa kerja rutin yang disiplin menjadi fondasi utama untuk bertanding di atmosfer kompetitif dan penuh tekanan.
Bagi Yuhsin, keikutsertaan di UPSCC III bukan hanya soal hasil akhir, melainkan tentang keberanian menguji kemampuan di level yang lebih menantang. Pertemuan dengan atlet-atlet dari berbagai kampus membuat ritme pertandingan berjalan ketat, cepat, dan menuntut kesiapan fisik serta mental yang matang. Di arena, ia merasakan langsung bagaimana pengalaman bertanding membentuk ketahanan diri, terutama ketika harus menjaga fokus di tengah situasi yang menegangkan.
Konsistensi Atlet Tapak Suci PBA Umsida di UPSCC III 2025
Yuhsin Amali lahir di Sumenep pada 11 November 2005. Saat ini ia menempuh studi di PBA Umsida sembari aktif sebagai atlet pencak silat di Tapak Suci Umsida. Aktivitasnya di bidang olahraga menjadi ruang pengembangan diri di luar akademik, sekaligus memperluas pengalaman dalam manajemen waktu, disiplin, dan komitmen.
Ia menilai UPSCC III 2025 sebagai kompetisi yang menantang karena diikuti atlet dari berbagai perguruan dengan jam terbang yang beragam. Situasi ini membuat setiap laga menuntut ketenangan, ketepatan strategi, serta kemampuan membaca pola permainan lawan.
“Kompetisi ini diikuti oleh atlet dari berbagai perguruan, sehingga persaingannya cukup ketat dan menantang,” ungkap Yuhsin.
Atmosfer pertandingan yang padat dan ramai juga menjadi bagian dari pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Menurutnya, bertanding di level antar kampus memberikan pelajaran berharga tentang cara mengelola tekanan, mengatur emosi, dan tetap disiplin pada rencana permainan.
“Selama pertandingan, alhamdulillah berjalan dengan lancar meskipun ada beberapa momen yang cukup menegangkan,” tuturnya.
Satu Bulan Persiapan Fisik Teknik dan Mental
Menjelang kejuaraan, Yuhsin menjalani persiapan intensif selama satu bulan. Pada fase ini, ia menaikkan intensitas latihan yang mencakup penguatan fisik, pengulangan teknik, pemantapan strategi, hingga simulasi pertandingan melalui sparring. Persiapan tersebut dilakukan untuk membangun kestabilan performa, terutama ketika menghadapi lawan yang lebih berpengalaman.
“Latihan intens saya jalani satu bulan sebelum kompetisi, dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya,” jelasnya.
Selain aspek teknis, ia juga memperhatikan pola makan dan istirahat agar kondisi tubuh tetap prima. Baginya, menjaga kebugaran bukan pelengkap, tetapi faktor penentu yang memengaruhi daya tahan, kecepatan reaksi, dan ketajaman fokus saat bertanding.
Tantangan terbesar selama masa persiapan adalah menjaga kondisi fisik tetap stabil di tengah latihan padat, sekaligus menyiapkan mental untuk menghadapi lawan dengan pengalaman bertanding lebih matang. Namun, tantangan itu tidak ia jadikan alasan untuk mengendur, justru menjadi pemicu untuk meningkatkan kualitas diri.
“Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah kondisi fisik dan lawan yang berpengalaman. Tapi hal itu justru memotivasi saya untuk terus berkembang,” ujarnya.
Bagi Yuhsin, proses latihan yang konsisten juga membentuk kebiasaan berpikir lebih tertata: kapan harus mendorong diri, kapan harus menjaga ritme, dan bagaimana membaca kemampuan diri secara objektif. Prinsip itu ia bawa dari latihan ke arena, sehingga setiap pertandingan menjadi bagian dari evaluasi untuk memperbaiki detail kecil yang sering luput.
Dukungan Umsida dan Pesan untuk Mahasiswa FAI
Di balik proses panjang latihan dan pertandingan, Yuhsin merasakan dukungan kuat dari lingkungan terdekat. Keluarga, teman, dan pelatih menjadi sumber semangat yang terus menguatkannya sejak masa persiapan hingga hari pertandingan.
“Support dari keluarga, teman, dan pelatih sangat luar biasa. Mereka selalu memberi semangat dan doa,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa dukungan institusi kampus berperan penting dalam menjaga motivasi dan keberlanjutan pembinaan prestasi mahasiswa. Menurutnya, Umsida memberi ruang bagi mahasiswa untuk berkembang tidak hanya di jalur akademik, tetapi juga di bidang non-akademik seperti olahraga dan kompetisi.
“Dari pihak Umsida sendiri, saya juga mendapat dukungan penuh yang sangat membantu saya sebagai atlet,” ungkapnya.
Meski belum menetapkan agenda turnamen terdekat, Yuhsin menegaskan komitmennya untuk tetap berlatih dan meningkatkan kemampuan. Ia berharap pengalaman di UPSCC III 2025 menjadi bekal untuk menghadapi kompetisi berikutnya dengan kesiapan yang lebih matang, baik dari sisi teknik maupun mental bertanding.
Menutup ceritanya, Yuhsin menyampaikan pesan bagi mahasiswa, khususnya di lingkungan FAI, agar tidak ragu mengembangkan potensi di luar kelas. Ia menekankan bahwa prestasi non-akademik bukan penghalang studi, selama manajemen waktu dijalankan dengan disiplin.
Baca Juga: Tak Gentar Cedera, Hikmah Sabet Emas di Unesa Pencak Silat Challenge III
“Jangan takut untuk berprestasi di luar akademik. Manajemen waktu dan konsistensi adalah kunci. Umsida memberikan banyak ruang bagi mahasiswa untuk berkembang, jadi manfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin,” pungkasnya.
Editor: Akhmad Hasbul Wafi
















