Pba.umsida.ac.id – Pembelajaran maharah kalam atau keterampilan berbicara dalam bahasa Arab tidak cukup hanya mengandalkan teori di ruang kelas.
Baca Juga: Irji Ulchaq Harumkan PBA Umsida di Ajang Tahfidz Internasional
Riset yang dilakukan oleh Nurin Nadhifatus Zahro bersama Imam Fauji dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menunjukkan bahwa keteladanan berbahasa justru menjadi unsur penting dalam membangun keberanian dan kemampuan santri untuk aktif berkomunikasi dalam bahasa Arab.
Penelitian itu dilakukan di Pondok Modern Darul Islam Lamongan pada tahun ajaran 2024/2025. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, peneliti menghimpun data lewat wawancara, observasi, dan dokumentasi selama Februari hingga Maret 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa pembelajaran maharah kalam berjalan lebih efektif ketika pengajar, pengurus, dan pimpinan pondok tidak hanya mengajarkan bahasa Arab, tetapi juga mencontohkannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Keteladanan jadi inti pembelajaran bahasa
Bahasa Arab dalam konteks pendidikan Islam memiliki posisi penting karena menjadi jalan untuk memahami Al-Qur’an, hadis, dan khazanah keilmuan Islam. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa kemampuan berbicara tidak tumbuh hanya dari hafalan kaidah. Santri justru lebih cepat berkembang ketika mereka hidup di lingkungan yang membuat bahasa Arab terdengar, terlihat, dan dipraktikkan setiap hari.
Di Pondok Modern Darul Islam Lamongan, keteladanan berbahasa diterapkan melalui penggunaan bahasa Arab aktif oleh pengajar dalam pembelajaran maupun komunikasi harian. Para santri dibiasakan untuk berani berbicara lebih dahulu, sementara penyempurnaan kaidah dilakukan secara bertahap dalam proses belajar di kelas. Pola ini mendorong tumbuhnya rasa percaya diri, karena santri tidak dibebani ketakutan berlebihan terhadap kesalahan saat mulai berbicara.
Riset tersebut juga menyoroti bahwa lingkungan pesantren memberi ruang ideal bagi pembelajaran maharah kalam. Santri tidak hanya menerima materi formal, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana bahasa Arab digunakan oleh figur yang mereka hormati. Dari titik itu, proses meniru, membiasakan, dan akhirnya menguasai bahasa berjalan lebih alami.
Language area hingga mufrodat harian dorong kebiasaan berbicara
Penelitian ini menemukan sedikitnya tiga strategi utama yang mendukung keberhasilan keteladanan berbahasa. Pertama adalah penerapan language area, yakni area tertentu di lingkungan pondok yang mewajibkan santri berkomunikasi dengan bahasa Arab. Kebijakan ini membuat bahasa Arab tidak berhenti sebagai materi pelajaran, melainkan berubah menjadi budaya komunikasi sehari-hari.
Kedua adalah pemberian mufrodat harian. Santri memperoleh kosakata baru secara rutin, mencatatnya dalam buku saku, lalu menggunakannya dalam percakapan. Pengurus juga melakukan pengecekan lisan, tulisan, bahkan kuis mendadak agar mufrodat yang diberikan benar-benar dipahami dan tidak berhenti pada hafalan semata. Strategi ini dinilai membantu santri lebih lancar berbicara sekaligus mengurangi kesalahan dalam penggunaan bahasa.
Ketiga adalah sistem jasus atau pengawasan bahasa selama 24 jam. Dalam sistem ini, beberapa santri ditugaskan mengamati pelanggaran bahasa sehingga kedisiplinan tetap terjaga. Menariknya, sanksi yang diberikan tidak semata-mata menghukum, tetapi juga bersifat mendidik, seperti menyetor mufrodat, membaca kosakata, atau membersihkan lingkungan. Dengan demikian, pengawasan diposisikan sebagai bagian dari pembinaan, bukan sekadar kontrol. Temuan penelitian menyebut tiga strategi ini membentuk lingkungan bahasa yang hidup dan memperkuat kompetensi komunikasi santri.
Relevan untuk pengembangan pembelajaran PBA
Bagi Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, hasil penelitian ini memberi pesan penting bahwa pembelajaran bahasa membutuhkan integrasi antara aspek pedagogis, keteladanan moral, dan lingkungan yang mendukung. Pimpinan pondok, pengasuh, pengurus, dan guru terbukti memiliki peran strategis sebagai teladan utama dalam menghidupkan budaya berbahasa. Bahasa Arab diperkenalkan bukan hanya sebagai alat akademik, tetapi juga sebagai bahasa ilmu, ibadah, dan dakwah.
Meski demikian, penelitian ini juga mencatat sejumlah tantangan. Kurangnya kedisiplinan sebagian santri maupun pengajar dapat melemahkan konsistensi budaya bahasa. Selain itu, perbedaan latar belakang kemampuan bahasa Arab antar santri menjadi hambatan tersendiri, terutama bagi pemula yang belum memiliki cukup kosakata dan masih merasa malu untuk berbicara.
Baca Juga: PKM FAI Camp Matangkan Proposal Menuju Seleksi Tingkat Universitas
Karena itu, penelitian ini merekomendasikan pendekatan yang bertahap dan lebih personal, seperti pendampingan sesuai tingkat kemampuan santri. Secara lebih luas, model keteladanan berbahasa yang dipadukan dengan disiplin, motivasi, dan imersi linguistik ini dapat menjadi rujukan bagi pengembangan pembelajaran maharah kalam di berbagai lembaga pendidikan Islam. Bagi PBA Umsida, temuan ini mempertegas bahwa pembelajaran bahasa Arab yang kuat tidak hanya dibangun oleh metode, tetapi juga oleh teladan yang hidup di lingkungan belajar.
Sumber: Artikel “Exemplary Language Practice in Maharah Kalam Learning: Praktik Bahasa yang Teladan dalam Pembelajaran Maharah Kalam” karya Nurin Nadhifatus Zahro dan Imam Fauji, Indonesian Journal of Islamic Studies, Vol. 13 No. 3, terbit 29 Agustus 2025

















