pba.umsida.ac.id — Yusuf Naufal Falih, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Pendidikan dan Studi Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), berhasil meraih juara satu dalam ajang Surabaya City of Heroes Championship 2026. Kompetisi tingkat nasional itu berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di GOR Jala Krida Wacana, Perak, Surabaya.
Yusuf Naufal, sapaan akrabnya, lahir di Purwokerto pada 29 Maret 2007. Saat ini ia menempuh semester tiga dan aktif dalam sejumlah organisasi mahasiswa, yakni Himpunan Mahasiswa, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, serta Tapak Suci. Dalam kejuaraan tersebut, Yusuf turun pada kategori tanding kelas B putra dewasa.
Bagi Yusuf Naufal, pencapaian tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa kesibukan akademik dan organisasi tetap dapat berjalan beriringan dengan target prestasi apabila dikelola disiplin secara konsisten setiap hari.
“Kurang lebih sekitar satu bulan kami mempersiapkan diri untuk mengikuti event ini. Waktu yang singkat bukan menjadi alasan untuk bermalas-malasan,” ujar Yusuf.
Persiapan dilakukan melalui training center setiap Senin hingga Kamis malam. Program latihan mencakup peningkatan fisik, mental, simulasi pertandingan, teknik bantingan, kecepatan, dan kekuatan. Seluruh materi dikombinasikan agar pesilat terbiasa menghadapi tekanan pertandingan dan tidak terkejut ketika memasuki gelanggang.
Menurut Yusuf, tantangan terbesarnya justru datang dari rasa malas yang muncul menjelang akhir semester. Pada periode yang sama, semangat latihan anggota Tapak Suci juga sempat menurun. Kesibukan semakin bertambah karena ia terlibat dalam Pemira 2026 sebagai salah satu calon kandidat.
“Keadaan itu justru mengubah rasa malas menjadi semangat dan harapan. Walaupun kegiatan sedang padat, saya tetap berusaha berlatih lebih giat,” katanya.
Dua Pertandingan Penuh Tekanan
Perjalanan Yusuf menuju medali emas ditempuh melalui dua pertandingan. Pada laga pertama, ia menghadapi kontingen Universitas Anwar Medika dari perguruan PSHT. Yusuf mengaku sempat tertinggal poin pada babak awal sehingga memilih berhenti memperhatikan papan skor dan fokus mempertahankan ritme pertandingan.
“Saya awalnya bertanding santai tanpa berharap terlalu jauh karena pada babak pertama sudah tertinggal poin. Setelah itu saya tidak melihat tayangan poin lagi dan hanya fokus bertahan serta merebut kembali poin,” jelasnya.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Yusuf berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan pertandingan dengan skor 3-1. Kemenangan itu membawanya ke partai final menghadapi kontingen Pagar Nusa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Menjelang final, Yusuf mengaku sempat minder setelah melihat pergerakan lawan yang dinilainya lebih matang. Namun, ia tetap menjaga tekad untuk menang. Pertandingan berlangsung ketat karena poin silih berganti diperoleh, sementara beberapa poin juga dianulir akibat pelanggaran.
“Sampai pertandingan selesai, skor imbang 4-4. Saya cukup terkejut ketika wasit dan juri menetapkan saya sebagai pemenang. Pelanggaran saya lebih sedikit, sehingga saya berhasil mendapatkan medali emas. Alhamdulillah,” ungkapnya.
Hasil tersebut menjadi pengalaman penting karena Yusuf belajar bahwa pertandingan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyerang, tetapi juga kedisiplinan dalam menghindari pelanggaran, menjaga fokus, dan membaca situasi di gelanggang.
Dukungan Jadi Energi Tambahan untuk Yusuf Naufal

Yusuf menyebut dukungan orang-orang terdekat sebagai salah satu faktor penting dalam keberhasilannya. Umsida memberikan fasilitas dan dukungan agar ia dapat mengikuti kejuaraan, sementara orang tua, pelatih, dan teman-temannya terus memberikan dorongan selama proses latihan.
“Orang tua mendukung penuh, coach dan jajarannya terus mendorong saya meningkatkan kualitas diri, dan teman-teman selalu mendukung langkah saya di pencak silat. Mereka menjadi support system ketika saya sedang down atau menghadapi kendala,” tuturnya.
Untuk waktu dekat, Yusuf berencana lebih banyak berfokus pada kategori seni ganda. Keputusan itu diambil karena aktivitas perkuliahan dan organisasi semakin padat, sekaligus memberi ruang pemulihan setelah mengalami cedera pada bagian kelingking kaki.
Meski demikian, capaian juara satu tidak membuatnya berhenti mengembangkan diri. Ia melihat kompetisi sebagai ruang belajar untuk meningkatkan mental, kemampuan teknik, serta keberanian mengambil kesempatan.
“Untuk mahasiswa Umsida, jangan ragu mencoba hal baru dan jangan takut memulai perjalanan. Lakukan yang terbaik, urusan hasil itu belakangan. Jangan terpaku pada hasil akhir. Selama sudah berusaha semaksimal mungkin, itu sudah cukup untuk meningkatkan value diri,” pesannya.
Yusuf berharap mahasiswa lain berani keluar dari zona nyaman dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Menurutnya, proses panjang, kegagalan, maupun kemenangan sama-sama menjadi bekal penting dalam membentuk kualitas diri.
“Jangan menyerah, tetap semangat. Perjalanan kalian masih panjang. Rugi kalau tidak pernah mencoba,” pungkasnya.
Penulis: Nabila Wulyandini
















